Tampilkan postingan dengan label Mutiara Al-Quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Al-Quran. Tampilkan semua postingan

Cici - Ciri Orang Islam Sejati Harusnya Seperti Ini

Cici - Ciri Orang Islam Sejati Harusnya Seperti Ini - SUDAHKAH kita tercantum orang yang betul-betul beriman (mukmin) alias muslim sejati? ayo kita renungkan identitas ataupun ciri orang beriman bagi al-quran berikut ini.

Cici - Ciri Orang Islam Sejati Harusnya Seperti Ini
Cici - Ciri Orang Islam Sejati Harusnya Seperti Ini
allâh swt mengatakan, di antara watak kalangan mukmin itu merupakan bila mendengar asma allah swt hingga hatinya bergetar, imannya meningkat bila dibacakan ayat-ayat quran, dan juga mereka bertawakal kepada-nya.

Cici - Ciri Orang Islam Sejati Harusnya Seperti Ini

Selain itu, orang beriman atau Muslim sebenarnya juga melaksanakan shalat dan gemar infak.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ﴿٢﴾الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ﴿٣﴾أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allâh , gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya keiman mereka bertambah, dan hanya kepada Rabblah mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabb mereka dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia" [QS. A;-Anfâl [8]:2-4).

cuma orang yang betul-betul berimanlah yang bila disebutkan nama allah hingga gemetar hatinya. terdapat kerasa cemas bagaikan wujud mengagungkan asma allah.

bertambahnya keimaman saan mendengar teks al-quran jadi fakta keimanan seorang.

orang yang beriman pula hendak menyandarkan seluruh urusannya cuma kepada allah, bukan kepada barang, gunung, cincin, keris, ataupun yang lain.

karna orang beriman itu percaya kalau tidak hendak terwujud sesuatu perihal kecuali atas kehendak allah. bila allah berkehendak terjalin, hingga terjadilah. dan juga bila allah tidak berkehendak, ya tidak hendak terjalin.

mendirikan shalat merupakan fakta keimanan seorang. di samping karna benar shalat merupakan tiangnya agama. bahwa dia menegakkan shalatnya, sama dengan dia menegakkan agamanya.

kebalikannya, manakala dia meruntuhkannya, tidak memperhatikannya, mengabaikannya, sama pula dengan meruntuhkan, tidak mencermati dan juga mengabaikan agamanya seorang diri.

seseorang pula dikatakan beriman kepada allah swt kala dia gemar menginfakkan hartanya di jalur allah.

mudah-mudahan kita terkategori orang yang mempunyai sifat-sifat orang-orang yang beriman dengan sesungguhnya, sebagaimana ayat-ayat tersebut. amin!

Cukup Samapi Disini dulu ilmu yang saya berikan tentang Cici - Ciri Orang Islam Sejati Harusnya Seperti Ini, semoga bermanfaat untuk kalian.

Tafsir Dalam Memilih Pemimpin Di QS Al-Maidah 51-53 yang Benar

Tafsir Dalam Memilih Pemimpin Di QS Al-Maidah 51-53 yang Benar - ALLAH SWT menegaskan larangan orang beriman (umat Islam) memimpin orang Yahudi atau Nasrani alias non-Muslim (kafir) sebagai pemimpin.

Alasan utamanya, karena mereka adalah musuh-musuh Islam atau tidak akan pernah senang kepada kaum Muslim sebagaimana dinyatakan ayat lainnya (QS. al-Baqarah [2]: 120).

Tafsir Dalam Memilih Pemimpin Di QS Al-Maidah 51-53 yang Benar
Tafsir Dalam Memilih Pemimpin Di QS Al-Maidah 51-53 yang Benar
Pemimpin non-Muslim, apalagi anti-Islam, berpotensi menghambat syi'ar Islam dan praktik ibadah kaum Muslimin. Lagi pula, pemimpin itu harus menjadi teladan bagi yang dipimpinnya, termasuk dalam urusan ketaatan kepada Allah SWT.


Berikut ini Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 51-53 yang wajib menjadi pedoman kaum Muslim dalam memilih pemimpin.
 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (51) فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ (52) وَيَقُولُ الَّذِينَ آمَنُوا أَهَؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ إِنَّهُمْ لَمَعَكُمْ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَأَصْبَحُوا خَاسِرِينَ (53)


"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian); sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Barang siapa di anta­ra kalian mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Maka kami akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani) seraya berkata, "Kami takut akan mendapat bencana, " Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan, "Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta kamu?” Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi."

Tafsir Ibnu Katsir

allah swt. melarang hamba-hamba-nya yang mukmin mengangkut orang-orang yahudi dan juga orang-orang nasrani bagaikan wali mereka, karna mereka merupakan musuh-musuh islam dan juga para penganutnya; mudah-mudahan allah melaknat mereka. setelah itu allah memberitahukan kalau sebagian dari mereka merupakan wali untuk sebagian yang lain.

Selanjutnya Allah mengancam orang mukmin yang melakukan hal itu melalui firman-Nya:

وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ


"Barang siapa di antara kalian mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka." (Al-Maidah: 51), hingga akhir ayat.

ibnu abu hatim berkata, telah menggambarkan kepada kami kasir ibnu syihab, telah menggambarkan kepada kami muhammad (ialah ibnu said ibnu sabiq), telah menggambarkan kepada kami amr ibnu abu qais, dari sammak ibnu harb, dari iyad, kalau umar sempat memerintahkan abu musa angkatan laut (AL) asyari buat mengatakan kepadanya tentang seluruh yang diambil dan juga yang diberikannya (ialah pendapatan dan juga pengeluarannya) dalam sesuatu catatan lengkap.

dan juga tersebutlah kalau yang jadi sekretaris abu musa dikala itu merupakan seseorang nasrani. setelah itu perihal tersebut dilaporkan kepada khalifah umar r. a. hingga khalifah umar terasa heran hendak perihal tersebut, kemudian dia mengatakan,

"Sesungguhnya orang ini benar-benar pandai, apakah kamu dapat membacakan untuk kami sebuah surat di dalam masjid yang datang dari negeri Syam?"

Abu Musa Al-Asy'ari menjawab, "Dia tidak dapat melakukannya." Khalifah Umar bertanya, "Apakah dia sedang mempunyai jinabah?" Abu Musa Al-Asy'ari berkata, "Tidak, tetapi dia adalah seorang Nasrani."

Maka Khalifah Umar membentakku dan memukul pahaku, lalu berkata, "Pecatlah dia." Selanjutnya Khalifah Umar membacakan firman Allah Swt.: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian). (Al-Maidah: 51), hingga akhir ayat

ibnu abu hatim berkata, telah menggambarkan kepada kami muhammad ibnul hasan ibnu muhammad ibnus sabah, telah mencerita­kan kepada kami usman ibnu umar, telah menggambarkan kepada kami ibnu aun, dari muhammad ibnu sirin yang berkata kalau abdullah ibnu atabah sempat mengatakan,

"Hendaklah seseorang di antara kalian memelihara dirinya, jangan sampai menjadi seorang Yahudi atau seorang Nasrani, sedangkan dia tidak menyadarinya." 

Menurut Muhammad ibnu Sirin, yang dimaksud olehnya menurut dugaan kami adalah firman Allah Swt. yang mengatakan: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian). (Al-Maidah : 51), hingga akhir ayat.

dan juga telah menggambarkan kepada kami abu said al-asyaj, telah menggambarkan kepada kami ibnu fudail, dari asim, dari ikrimah, dari ibnu abbas, kalau dia sempat ditanya menimpa sembelihan orang-orang nasrani arab. hingga dia menanggapi, boleh dimakan. allah swt. cuma berfirman: benda siapa di antara kamu mengambil mereka jadi wali, hingga sebetulnya orang itu tercantum kalangan mereka.  (Al-Maidah: 51)
Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Abuz Zanad.

فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ 


Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya. (Al-Maidah: 52). Yaitu keraguan, kebimbangan, dan kemunafikan.

يُسَارِعُونَ فِيهِمْ


bersegera mendekati mereka. (Al-Maidah: 52). Maksudnya, mereka bersegera berteman akrab dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani secara lahir batin.

يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ seraya berkata, "Kami takut akan mendapat bencana." (Al-Maidah: 52)


ialah mereka melaksanakan demikian dengan sebab kalau mereka cemas hendak terjalin sesuatu pergantian, ialah orang-orang kafir beroleh kemenangan atas kalangan muslim.

bila perihal ini terjalin, berarti mereka hendak mendapatkan proteksi dari orang-orang yahudi dan juga nasrani, meng­ingat orang-orang yahudi dan juga nasrani memiliki pengaruh tertentu di golongan orang-orang kafir, sampai-sampai perilaku bergaul akrab dengan mereka mampu membagikan khasiat ini. hingga allah swt berfirman menanggapi mereka:

{فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ} Mudah-mudahan Allah akan memberikan kemenangan (kepada Rasul-Nya). (Al-Maidah: 52).

Menurut As-Saddi, yang dimaksud dengan al-Fathu dalam ayat ini ialah kemenangan atas kota Mekah. Sedangkan yang lainnya mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah kekuasaan peradilan dan keputusan.

{أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ} atau sesuatu keputusan dari-Nya. (Al-Maidah: 52). Menurut As-Saddi, makna yang dimaksud ialah memungut jizyah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani.

{فَيُصْبِحُوا} Maka karena itu mereka menjadi. (Al-Maidah: 52). Yakni orang-orang yang menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali mereka dari kalangan kaum munafik.

{عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ} menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka (Al-Maidah: 52) Yaitu menyesali perbuatan mereka yang berpihak kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani itu.

dengan kata lain, mereka menyesali perbuatan yang mereka jalani karna usahanya itu tidak mampu membagikan hasil apa juga, tidak pula mampu menolak perihal yang mereka jauhi, terlebih lagi berpihak kepada mereka menggambarkan pemicu utama dari kehancuran itu seorang diri. saat ini mereka keadaannya telah dipermalukan dan juga allah telah menampakkan masalah mereka di dunia ini kepada hamba-hamba-nya yang beriman, sementara itu sebelumnya mereka tersembunyi, kondisi dan juga prinsip mereka masih belum dikenal. namun sehabis seluruh pemicu yang mempermalukan mereka telah lengkap, hingga nampak jelaslah masalah mereka di mata hamba-hamba allah yang mukmin.

orang-orang mukmin terasa heran dengan perilaku mereka (kalangan munafik itu), gimana mereka mampu menampakkan diri kalau mereka seakan-akan tercantum orang-orang mukmin, dan juga terlebih lagi mereka berani bersumpah buat itu, namun dalam waktu yang sama mereka berpihak kepada orang-orang yahudi dan juga nasrani? dengan demikian, nampak jelaslah kedustaan dan juga kebohongan mereka. buat seperti itu allah mengatakan dalam firman-nya:

{وَيَقُولُ الَّذِينَ آمَنُوا أَهَؤُلاءِ الَّذِينَ أَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ إِنَّهُمْ لَمَعَكُمْ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَأَصْبَحُوا خَاسِرِينَ} Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan, "Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta kalian?” Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi. (Al-Maidah: 53)

Ikrimah mengatakan, ayat ini (QS Al-Maidah:51-53) diturunkan berkenaan dengan Abu Lubabah ibnu Abdul Munzir ketika Rasulullah Saw. mengutusnya kepada Bani Quraizah, lalu mereka bertanya kepadanya,

"Apakah yang akan dilakukan olehnya terhadap kami?" Maka Abu Lubabah mengisya­ratkan dengan tangannya ke arah tenggorokannya, yang maksudnya bahwa Nabi Saw. akan menyembelih mereka. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Menurut pendapat yang lain. ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul, seperti apa yang telah disebutkan oleh Ibnu Jarir:

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْب، حَدَّثَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي، عَنْ عَطِيَّةَ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: جَاءَ عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ، مِنْ بَنِي الْخَزْرَجِ، إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ لِي مَوَالِي مَنْ يَهُودٍ كَثِيرٌ عَدَدُهُمْ، وَإِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ مِنْ وَلَايَةِ يَهُودٍ، وَأَتَوَلَّى اللَّهَ وَرَسُولَهُ. فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ: إِنِّي رَجُلٌ أَخَافُ الدَّوَائِرَ، لَا أَبْرَأُ مِنْ وِلَايَةِ مَوَالِي. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ: "يَا أَبَا الحُباب، مَا بَخِلْتَ بِهِ مِنْ وَلَايَةِ يَهُودَ عَلَى عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ فَهُوَ لَكَ دُونَهُ". قَالَ: قَدْ قَبِلْتُ! فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ [بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ] } إِلَى قَوْلِهِ: {فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ} 


bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar ayahnya menceritakan hadis berikut dari Atiyyah ibnu Sa'd, bahwa Ubadah ibnus Samit dari Banil Haris ibnul Khazraj datang kepada Rasulullah Saw., lalu berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mempunyai teman-teman setia dari kalangan orang-orang Yahudi yang jumlah mereka cukup banyak.

Dan sesungguhnya saya sekarang menyatakan berlepas diri kepada Allah dan Rasul-Nya dari mengambil orang-orang Yahudi sebagai teman setia saya, dan sekarang saya berpihak kepada Allah dan Rasul-Nya." Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul berkata, "Sesungguhnya aku adalah seseorang yang takut akan mendapat bencana. Karenanya aku tidak mau berlepas diri dari mereka yang telah menjadi teman-teman setiaku."

Maka Rasulullah Saw. bersabda kepada Abdullah ibnu Ubay, "Hai Abul Hubab, apa yang engkau pikirkan, yaitu tidak mau melepaskan diri dari berteman setia dengan orang-orang Yahudi, tidak seperti apa yang dilakukan oleh Ubadah ibnus Samit. Maka hal itu hanyalah untukmu, bukan untuk Ubadah." Abdullah ibnu Ubay berkata, "Saya terima." Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian). (Al-Maidah: 51), hingga dua ayat berikutnya.

ثُمَّ قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا هَنَّاد، حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ بُكَيْر، حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ: لَمَّا انْهَزَمَ أَهْلُ بَدْرٍ قَالَ الْمُسْلِمُونَ لِأَوْلِيَائِهِمْ مِنْ يَهُودَ: آمِنُوا قَبْلَ أَنْ يُصِيبَكُمُ اللَّهُ بِيَوْمٍ مِثْلَ يَوْمِ بَدْرٍ! فَقَالَ مَالِكُ بْنُ الصَّيْفِ: أَغَرَّكُمْ أَنْ أَصَبْتُمْ رَهْطًا مِنْ قُرَيْشٍ لَا عِلْمَ لَهُمْ بِالْقِتَالِ!! أَمَا لَوْ أمْرَرْنا الْعَزِيمَةَ أَنْ نَسْتَجْمِعَ عَلَيْكُمْ، لَمْ يَكُنْ لَكُمْ يَدٌ بِقِتَالِنَا فَقَالَ عُبَادَةُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أَوْلِيَائِي مِنَ الْيَهُودِ كَانَتْ شَدِيدَةً أَنْفُسُهُمْ، كَثِيرًا سِلَاحُهُمْ، شَدِيدَةً شَوْكَتُهُمْ، وَإِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ [تَعَالَى] وَإِلَى رَسُولِهِ مِنْ وِلَايَةِ يَهُودَ، وَلَا مَوْلَى لِي إِلَّا اللَّهُ وَرَسُولُهُ. فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ: لَكِنِّي لَا أَبْرَأُ مِنْ وَلَاءِ يَهُودٍ أَنَا رَجُلٌ لَا بُدَّ لِي مِنْهُمْ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يَا أَبَا الْحُبَابِ أَرَأَيْتَ الَّذِي نَفَّسْتَ بِهِ مِنْ وَلَاءِ يَهُودَ عَلَى عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، فَهُوَ لَكَ دُونَهُ؟ " فَقَالَ: إِذًا أقبلُ! قَالَ: فَأَنْزَلَ اللَّهُ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ [بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ] } إِلَى قَوْلِهِ: {وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ} 


Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hannad, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Abdur Rahman, dari Az-Zuhri yang menceritakan bahwa ketika kaum musyrik mengalami kekalahan dalam Perang Badar, kaum muslim berkata kepada teman-teman mereka yang dari kalangan orang-orang Yahudi,

"Masuk Islamlah kalian sebelum Allah menimpakan kepada kalian suatu bencana seperti yang terjadi dalam Perang Badar."

Malik ibnus Saif berkata, "Kalian telah teperdaya dengan kemenangan kalian atas segolongan orang-orang Quraisy yang tidak mempunyai pengalaman dalam peperangan. Jika kami bertekad menghimpun kekuatan untuk menyerang kalian, maka kalian tidak akan berdaya untuk memerangi kami."

Maka Ubadah ibnus Samit berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguh­nya teman-teman sejawatku dari kalangan orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang berjiwa keras, banyak memiliki senjata, dan kekuatan mereka cukup tangguh. Sesungguhnya aku sekarang berlepas diri kepada Allah dan Rasul-Nya dari berteman dengan orang-orang Yahudi. Sekarang bagiku tidak ada pemimpin lagi kecuali Allah dan Rasul-Nya."

Tetapi Abdullah ibnu Ubay berkata, "Tetapi aku tidak mau berlepas diri dari berteman sejawat dengan orang-orang Yahudi. Sesungguhnya aku adalah orang yang bergantung kepada mereka."

Maka Rasulullah Saw. bersabda, "Hai Abul Hubab, bagaimanakah jika apa yang kamu sayangkan, yaitu berteman sejawat dengan orang-orang Yahudi terhadap Ubadah ibnus Samit, hal itu hanyalah untukmu, bukan untuk dia?"

Abdullah ibnu Ubay menjawab, "Kalau begitu, aku bersedia menerima­nya." Maka Allah menurunkan firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian). (Al-Maidah: 51) sampai dengan firman-Nya: Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (Al-Maidah: 67)

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, kabilah Yahudi yang mula-mula berani melanggar perjanjian antara mereka dan Rasulullah Saw. adalah Bani Qainuqa.

فَحَدَّثَنِي عَاصِمُ بْنُ عُمَرَ بْنِ قَتَادَةَ قَالَ: فَحَاصَرَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حتى نَزَلُوا عَلَى حُكْمِهِ، فَقَامَ إِلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ بن أبي بن سَلُولَ، حِينَ أَمْكَنَهُ اللَّهُ مِنْهُمْ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَحْسِنْ فِي مَوَالي. وَكَانُوا حُلَفَاءَ الْخَزْرَجِ، قَالَ: فَأَبْطَأَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَحْسِنْ فِي مَوَالِي. قَالَ: فَأَعْرَضَ عَنْهُ. فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِي جَيْبِ دِرْعِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. "أَرْسِلْنِي". وَغَضِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى رُئِي لِوَجْهِهِ ظُلَلًا ثُمَّ قَالَ: "وَيْحَكَ أَرْسِلْنِي". قَالَ: لَا وَاللَّهِ لَا أُرْسِلُكَ حَتَّى تُحْسِنَ فِي مَوَالي، أَرْبَعِمِائَةِ حَاسِرٍ، وَثَلَاثِمِائَةِ دَارِعٍ، قَدْ مَنَعُونِي مِنَ الْأَحْمَرِ وَالْأَسْوَدِ، تَحْصُدُهُمْ فِي غَدَاةٍ وَاحِدَةٍ؟! إِنِّي امْرُؤٌ أَخْشَى الدَّوَائِرَ، قَالَ: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "هُم لَكَ." 


Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadanya Asim ibnu Umar ibnu Qatadah yang mengatakan bahwa lalu Rasulullah Saw. mengepung mereka hingga mereka menyerah dan mau tunduk di bawah hukumnya.

Lalu bangkitlah Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul kepada Rasulullah, setelah Allah memberikan kemenangan kepadanya atas mereka. Kemudian Abdullah Ibnu Ubay ibnu Salul berkata,

"Hai Muhammad, perlakukanlah teman-teman sejawatku itu dengan baik, karena mereka adalah teman-teman sepakta orang-orang Khazraj."

Rasulullah Saw. tidak melayaninya, dan Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul berkata lagi, "Hai Muhammad, perlakukanlah teman-teman sejawatku ini dengan baik. Tetapi Rasulullah Saw. tidak mempedulikannya.

Kemudian Abdullah ibnu Ubay memasukkan tangannya ke dalam kantong baju jubah Nabi Saw., dan Nabi Saw. bersabda kepadanya.”Lepaskanlah aku!" Bahkan Rasulullah Saw. marah sehingga kelihatan roman muka beliau memerah, kemudian bersabda lagi, "Celakalah kamu, lepaskan aku. Abdullah ibnu Ubay berkata, "Tidak, demi Allah, sebelum engkau bersedia akan memperlakukan teman-teman sejawatku dengan perlakuan yang baik. Mereka terdiri atas empat ratus orang yang tidak memakai baju besi dan tiga ratus orang memakai baju besi, dahulu mereka membelaku dari ancaman orang-orang yang berkulit merah dan berkulit hitam yang selalu mengancamku, sesungguhnya aku adalah orang yang takut akan tertimpa bencana." Maka Rasulullah Saw. bersabda, "Mereka kuserahkan kepadamu."

قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ: فَحَدَّثَنِي أَبُو إِسْحَاقَ بْنُ يَسار، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الْوَلِيدِ بْنِ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ: لَمَّا حَارَبَتْ بَنُو قَيْنُقَاع رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، تَشَبَّثَ بِأَمْرِهِمْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ، وَقَامَ دُونَهُمْ، وَمَشَى عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَ أَحَدَ بَنِي عَوْف بْنِ الْخَزْرَجِ، لَهُ مِنْ حِلْفِهِمْ مِثْلَ الَّذِي لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ، فَجَعَلَهُمْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَبَرَّأَ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ حِلْفِهِمْ، وَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَتَبَرَّأُ إِلَى اللَّهِ وَإِلَى رَسُولِهِ مِنْ حِلْفِهِمْ، وَأَتَوَلَّى اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالْمُؤْمِنِينَ، وَأَبْرَأُ مِنْ حِلْفَ الْكُفَّارِ وَوَلَايَتِهِمْ. فَفِيهِ وَفِي عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ نَزَلَتِ الْآيَاتُ فِي الْمَائِدَةِ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ} إِلَى قَوْلِهِ: {وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ} 


Muhammad ibnu Ishaq berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Ishaq ibnu Yasar, dari Ubadah ibnul Walid ibnu Ubadah ibnus Samit yang mengatakan bahwa ketika Bani Qainuqa' memerangi Rasulullah Saw., Abdullah ibnu Ubay berpihak dan membela mereka, sedangkan Ubadah ibnus Samit berpihak kepada Rasulullah Saw.

Dia adalah salah seorang dari kalangan Bani Auf ibnul Khazraj yang juga merupakan teman sepakta Bani Qainuqa', sama dengan Abdullah ibnu Ubay. Ubadah ibnus Samit menyerahkan perkara mereka kepada Rasulullah Saw. dan berlepas diri kepada Allah dan Rasul-Nya dari berteman dengan mereka.

Lalu ia mengatakan, "Wahai Rasulullah, saya berlepas diri kepada Allah dan Rasul-Nya dari berteman dengan mere­ka; dan sekarang saya berpihak kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin; saya pun menyatakan lepas dari perjanjian saya dengan orang-orang kafir dan tidak mau lagi berteman dengan mereka."

Berkenaan dengan dia dan Abdullah ibnu Ubay ayat-ayat ini diturunkan,- yaitu firman Allah Swt. yang ada di dalam surat Al-Maidah: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian); sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. (Al-Maidah: 51) sampai dengan firman-Nya: Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. (Al-Maidah: 56).

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ زَكَرِيَّا بْنِ أَبِي زَائِدَةَ، عَنْ محمد بن إِسْحَاقَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَة، عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ: دَخَلْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ نَعُودُهُ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "قَدْ كُنْتُ أَنْهَاكَ عَنْ حُبّ يَهُودَ". فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ: فَقَدْ أَبْغَضَهُمْ أَسْعَدُ بْنُ زُرَارَةَ، فَمَاتَ. 


Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Qutaibah ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Zakaria ibnu Abu Zaidah, dari Muhammad ibnu Ishaq, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Usamah ibnu Zaid yang menceritakan bahwa ia pernah bersama dengan Rasulullah Saw. menjenguk Abdullah ibnu Ubay yang sedang sakit. Maka Nabi Saw. bersabda kepadanya: Aku pernah melarangmu jangan berteman dengan orang-orang Yahudi. Tetapi Abdullah ibnu Ubay menjawab, "As'ad ibnu Zararah pernah membenci mereka, dan ternyata dia mati."

 Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Daud melalui hadis Muhammad ibnu Ishaq.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dhalim. (QS. 5:51)

Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: ‘Kami takut akan mendapat bencana.’ Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau suatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. (QS. 5:52)

Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan: ‘Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta kamu?’ Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi. (QS. 5:53)” (al-Maa-idah: 51-53)

Sudah cukup jelaskan kalian mengenai apa yang harus perlu di perhatikan dalam memilih seorang pemimpin, sebab pemimpin adalah kunci utama suatu golongan, jadi kalian harus benar - benar tepat dalam memilih.

Cukup samapai disini dulu artikel saya tentang Tafsir Dalam Memilih Pemimpin Di QS Al-Maidah 51-53 yang Benar, semoga ini bermanfaat untuk kalian semua.

Orang Yang Membuat Rekayasa Tapi Rekayasa Allah SWT yang Terbaik

Orang Yang Membuat Rekayasa Tapi Rekayasa Allah SWT yang Terbaik - orang-orang kafir tetap berupaya membikin rekayasa, tipu-daya, skenario, ataupun makar buat memadamkan sinar api kebenaran dan juga syiar islam di wajah bumi.

orang-orang non-muslim yang memusuhi islam dan juga umat islam tetap berupaya menggalang dana dan juga kekokohan buat mengalahkan kalangan muslim dan juga menistakan agama allah swt. akan tetapi, al-quran menjanjikan, makar allah swt lebih baik.

Orang Yang Membuat Rekayasa Tapi Rekayasa Allah SWT yang Terbaik
Orang Yang Membuat Rekayasa Tapi Rekayasa Allah SWT yang Terbaik
Allah SWT sajalah sebaik-baik pembalas tipu-daya dan skenario kaum kafir yang terus menyerang Islam dan kaum Muslim dengan berbagai cara.

Dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran (3) ayat 54 Allah SWT menegaskan:

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ


“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”.

Ayat di atas merupakan rentetan dari kisah Nabi Isa a.s ketika mana menyeru kaumnya kepada agama Islam. Ayat ini juga merupakan ancaman kepada kaum kafir yang ingkar terhaddap dakwah Nabi Isa.

Mereka merancang untuk menyalib dan membunuh Nabi Isa. Namun, rencana mereka atau tipu-muslihat mereka dihancurkan oleh Allah SWT. Dalam ayat berikutnya, Allah SWT menceritakan bagaimana Allah SWT mengangkat Nabi Isa a.s. ke langit.

ibn katsir menuliskan:

allah swt. menggambarkan hal-hal segolongan orang-orang terkemuka bani israil dalam rencana mereka yang bakal membinasakan nabi isa a. s. mereka bertujuan pingin menimpakan kejahatan terhadapnya dan juga menyalibnya. mereka seluruhnya bergabung buat menentangnya dan juga menghasutnya ke hadapan raja di masa itu yang kafir. mereka mengantarkan berita hasutan kepada sang raja kalau di situ terdapat seseorang lelaki yang menyesatkan orang-orang banyak, menghalang-halangi mereka buat taat kepada raja, mengganggu rakyat dan memecah-belah antara seseorang bapak dan juga anaknya; dan juga hasutan-hasutan yang lain yang biasa menyebabkan sanksi yang berat untuk pelakunya. mereka melemparkan tuduhan terhadap nabi isa bagaikan seseorang pendusta, dan juga kalau ia merupakan anak zina. perihal tersebut membangkitkan kemarahan sang raja, kemudian dia mengirimkan orang-orangnya buat menangkap dan juga menyalibnya dan menyiksanya.

kala mereka mengepung rumah nabi isa dan juga mereka menebak tentu mampu menangkapnya, hingga allah menyelamatkan nabi isa dari sergapan mereka. allah mengangkatnya dari atap rumah tersebut ke langit. setelah itu allah memiripkan rupa seseorang lelaki yang terdapat di dalam rumah tersebut dengan nabi isa a. s.

kala mereka masuk ke dalam rumah itu, mereka menebak lelaki tersebut bagaikan nabi isa dalam kegelapan malam, kemudian mereka menangkapnya dan juga menghinanya dan menyalibnya, kemudian meletakkan jarum di atas kepalanya.

perihal tersebut menggambarkan tipu energi dari allah terhadap mereka, karna ia hendak menyelamatkan nabi-nya dan juga mengangkatnya dari hadapan mereka ke langit, dan meninggalkan mereka bergelimangan di dalam kesesatan. mereka menebak kalau mereka telah sukses menggapai sasarannya. dan juga allah menempatkan di dalam hati mereka kekerasan dan juga keingkaran terhadap masalah yang hak. perihal ini menempel di hati mereka, dan juga allah menimpakan kepada mereka kehinaan yang tidak sempat lekang dari diri mereka hingga hari kiamat nanti.

Allah SWT berfirman:

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ali Imran: 54).


Tafsir fi Zilalil Quran Syed Qutb menceritakan bagaimana perancangan Allah SSWT itu memusnahkan perancangan jahat kaum kafir Quraisy. 

Skenario Allah SWT akan senantiasa berlaku dengan ikhtiar para pejuang di jalan Allah (mujahid fillah) yang ikhlas demi menggapai gelar syuhada. Berbuatlah sesuatu untuk kemenangan Islam, maka tipu-daya kaum kafir akan gagal total.

Doa & Dzikir Mengatasi Masalah Hidup

Hasbunallah wani’mal-wakîl, ni’mal-mawlâ, wani’man-nashîr
SETIAP manusia punya masalah. Pasalnya, hidup ini adalah ujian dari Allah SWT untuk mengetahui siapa yang terbaik amalannya.


"Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan bagimu, agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka terbaik perbuatannya." (QS. Al-Kahfi:17)

Selain itu, setiap Muslim atau orang beriman pasti menghadapi ujian dari Allah SWT. (Baca: Jenis-Jenis Ujian Iman bagi Kaum Muslim).

Sebagai pedoman hidup yang lengkap dan sempurna, Risalah Islam sudah memberi bimbingan pada kita saat kita dihimpit masalah, dirundung duka, dibebani kesulitan hidup, juga merasa berada dalam ancaman.

Salah satunya adalah doa dan dzikir.  Ketika menghadapi masalah, selain berikhtiar mengatasinya, ucapkanlah doa atau dzikir:

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ نِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ


“Hasbunallah wani’mal-wakîl, ni’mal-mawlâ, wani’man-nashîr".

Artrinya: "Cukuplah Allah tempat berserah diri bagi kami, sebaik-baik pelindung kami, dan sebaik-baik penolong kami".

Doa "Hasbunallah Wani'mal Wakil..." tersebut berisi pernyataan ketergantungan kita kepada Allah SWT, memohon perlindungan-Nya, dan mengembalikan semua masalah kepada-Nya.


Doa dan dzikir tersebut merupakan gabungan doa dari Al-Quran yaitu Surat Ali Imran (3) ayat 173 dan Al-Anfal (8) ayat 40.

“(Yaitu) orang-orang (yang menta’ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan:”Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “HasbunalLâh Wani’mal-Wakîl”, Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (QS. 3:173).

“Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong [Ni'mal-Mawla Wani'man-Nashîr]“. (QS. 8:40).

Dalam sebuah hadits Shahih Bukhari disebutkan:

"Nabi Saw datang pada hari Perang Uhud, lalu ada yang berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang (kafir) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerangmu, maka takutlah kepada mereka!' Lalu beliau Saw mengucapkan 'Hasbunallah wani'mal wakil, kemudian Allah menurunkann ayat: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka," maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung". (HR. Bukhari).

Setiap Muslim harus mengamalkan doa atau dzikir tersebut. Selain sebagai perwujudan sikap tauhid (mengesakan Allah), juga menegaskan keimanan bahwa Allah Maha Berkuasa segala sesuatu dan kita yakin akan kekuasaan-Nya yang bisa melindungi kita dari segala keburukan.

Semoga Allah SWT senantiasa menolong kita dalam mengatasi masalah hidup. Semoha doa dan dzikir di atas juga menjadi amalan rutin kita. Doa pun termasuk ibadah dan bukti keimanan. Amin...! Wallahu a’lam bish-shawabi (http://www.risalahislam.com).*