Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Pahala Untuk Orang yang Berpuasa Ramadhan dengan Tertib

Pahala Untuk Orang yang Berpuasa Ramadhan dengan Tertib - puasa (shaum) ramadhan begitu memiliki berkah yang tidak terhingga. puasa salah satunya ibadah yang cuma dikenal oleh allah swt dan juga diri seorang diri.
Pahala Untuk Orang yang Berpuasa Ramadhan dengan Tertib
Pahala Untuk Orang yang Berpuasa Ramadhan dengan Tertib
puasa juga buat allah dan juga ia langsung yang membagikan pahala ataupun kebaikan untuk orang yang berpuasa.

Pahala Untuk Orang yang Berpuasa Ramadhan dengan Tertib

paling tidak terdapat 7 pahala untuk orang berpuasa sebagaimana dipaparkan Rasulullah Saw:

1.  PENEBUS DOSA
“Shalat lima waktu, hari jumat dengan jumat yang lainnya dan antara Ramadhan dengan Ramadhan lainnya, adalah sebagai penebus dosa selama tidak berbuat dosa besar.” (HR. Muslim).

2.  PEMBERI SYAFAAT
“Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Puasa akan berkata: “Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat di waktu siang, karenanya perkenankanlah aku untuk memberikan syafaat kepadanya”. Al-Qur’an berkata: “Saya telah melarangnya dari tidur di malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya. Beliau bersabda, ”Maka syafaat keduanya diperkenankan.” (HR. Ahmad).

3. DUA KEBAHAGIAAN
Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi di hari kiamat. Dan bagi orang yang berpuasa itu mempunyai dua kegembiraan, yaitu ketika berbuka dan ketika berjumpa dengan Rabbnya, ia gembira dengan puasanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

4. PAHALA BESAR
“Abu Umamah Al-Bahili penah berkata: saya berkata: Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang Allah dapat memberikan manfaat kepadaku dengannya”. Maka Rasulullah saw. pun menjawab : “Hendaknya kamu berpuasa, karena puasa itu tidak ada tandingan (pahala)-nya.” (HR. Nasa’i).

5. JAUH DARI FITNAH
“Fitnah (ujian) seseorang dalam keluarga (istri), harta, anak, dan tetangganya dapat ditutupi dengan shalat, puasa, dan sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

6. PERISAI DIRI
“Puasa itu adalah perisai yang dapat melindungi diri seorang hamba dari api neraka.” (HR. Ahmad)

7.  PINTU KHUSUS KE SURGA
“Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat satu pintu yang diberi nama Ar-Rayyan. Dari pintu tersebut orang-orang yang berpuasa akan masuk di hari kiamat nanti dan tidak seorang pun yang masuk ke pintu tersebut kecuali orang-orang yang berpuasa. Dikatakan kepada mereka: “Di mana orang-orang yang berpuasa?”. Maka mereka pun masuk melaluinya. Dan apabila orang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintu tersebut ditutup sehingga tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut. Barangsiapa yang masuk, maka ia akan minum minuman surga. Dan barangsiapa yang minum minuman surga, maka ia tidak akan haus selamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

sepanjang ramadhan, allah swt melipatgandakan pahala kebaikan sampai 10 kali lipat. seperti itu sebabnya para ulama berkata, ramadhan menggambarkan bulan bonus untuk umat islam --bulan yang penuh berkah, ampunan, rahmat, dan juga kemuliaan (ramadhan karim). 7 pahala untuk orang yang berpuasa ramadhan di atas, tentu aja untuk mereka yang melakukan puasanya secara imanan wahtisaban --penuh keimanan dan juga keikhlasan.

Semoga kita termasuk yang mendapatkan ketujuh pahala puasa Ramadhan.

Cukup itu yang bisa saya tuliskan tentang Pahala Untuk Orang yang Berpuasa Ramadhan dengan Tertib, semoga bermanfaat untuk kalian.

Pengertian dan Sejarah Hari Raya Idul Fitri

Pengertian dan Sejarah Hari Raya Idul Fitri
Pengertian, Sejarah, dan Ungkapan di Hari Raya Idul Fitri.

IDUL Fitri adalah hari raya umat Islam. Muslim Indonesia menyebutnya dengan Lebaran dan momentum saling bermaafan, setelah puasa Ramadhan yang menyucikan jiwa, membersihkan dosa.

Pengertian Idul Fitri

Secara bahasa (harfiyah), Idul Fitri artinya kembali ke fitrah. Kata fitrah dari kata futhur yang artinya kembali makan pagi (sarapan).

Jadi, Idul Fitri sejatinya bermakna kembali sarapan, tidak seperti bulan Ramadhan yang harus berpuasa.

Ada juga yang memaknai Idul Fitri sebagai kembali ke fitrah, yakni asal kejadian manusia yang suci-bersih dari dosa, layaknya bayi baru lahir.

Pengertian demikian dikaitakan dengan hadits Nabi Saw dari sahabat Abu Hurairah. Ia berkata:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR. Bukhari dan Muslim).

Sejarah Hari Raya 

Sebelum ajaran Islam diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw di Makkah, masyarakat Jahiliyah Arab sudah memiliki dua hari raya, yakni Nairuz dan Mahrajan.

Kaum Arab Jahiliyah menggelar kedua hari raya itu dengan menggelar pesta-pora. Selain menari-nari, baik tarian perang maupun ketangkasan, mereka juga merayakan hari raya dengan bernyanyi dan menyantap hidangan lezat serta minuman memabukkan.

‘’Nairuz dan Mahrajan merupakan tradisi hari raya yang berasal dari zaman Persia Kuno,’’ tulis Ensiklopedi Islam.

Setelah turunnya kewajiban menunaikan ibadah puasa Ramadhan pada 2 Hijriyah, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan An-Nasa’i, Rasulullah SAW bersabda:  

"Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan hari raya yang lebih baik, yakni Idul Fitri dan Idul Adha." (HR Daud dan Nasai)


Setiap kaum memang memiliki hari raya masing-masing. Ibnu Katsir dalam Kisah Para Nabi dan Rasul mengutip sebuah hadits dari Abdullah bin Amar:

"Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: ’’Puasanya Nuh adalah satu tahun penuh, kecuali hari Idul Fitri dan Idul Adha’.’’ (HR Ibnu Majah).

Jika merujuk pada hadis di atas, maka umat Nabi Nuh AS pun memiliki hari raya. Sayangnya, kata Ibnu Katsir, hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah itu sanadnya dhaif (lemah).  Rasulullah Saw membenarkan bahwa setiap kaum memiliki hari raya.

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, Abu Bakar pernah memarahi dua wanita Anshar memukul rebana sambil bernyanyi-nyanyi. "’Pantaskah ada seruling setan di rumah, ya Rasulullah Saw?’’ tanya Abu Bakar.

"Biarkanlah mereka wahai Abu Bakar. Karena tiap-tiap kaum mempunyai hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita,’’ sabda Rasul Saw.

Sejarah Idul Fitri

Menurut Ensiklopedia Islam, Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran untuk pertama kalinya dirayakan umat Islam selepas Perang Badar pada 17 Ramadhan Tahun ke-2 Hijiriyah.

Dalam pertempuran itu, umat Islam meraih kemenangan. Sebanyak 319 kaum Muslimin harus berhadapan dengan 1.000 tentara dari kaum kafir Quraisy.

Pada tahun itu, Rasulullah SAW dan para sahabat merayakan dua kemenangan, yakni keberhasilan mengalahkan pasukan kaum kafir Quraisy dalam Perang Badar dan menaklukkan hawa nafsu setelah sebulan berpuasa.

Dari sinilah lahirnya ungkapan "Minal 'Aidin wal Faizin" yang lengkapnya ungkapan doa kaum Muslim saat itu: Allahummaj 'alna minal 'aidin walfaizin -- Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang kembali (dari Perang Badar) dan mendapatkan kemenangan.

Minal 'Aidin wal Faizin


Menurut sebuah riwayat, Nabi Saw dan para sahabat menunaikan Shalat Id pertama kali dalam kondisi luka-luka yang masih belum pulih akibat Perang Badar.

Rasulullah Saw pun dalam sebuah riwayat disebutkan, merayakan Hari Raya Idul Fitri pertama dalam kondisi letih. Sampai-sampai Nabi Saw bersandar kepada Bilal ra dan menyampaikan khotbah 'Id.

Dalam suasana Id, para sahabat saling bertemu dengan mengucapkan doa "Taqobbalallahu minna waminkum" yang artinya "Semoga Allah menerima ibadah kita semua".

Taqobbalallahu minna waminkum

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata, bahwa jika para sahabat Rasulullah Saw berjumpa dengan hari ‘id (Idul Fithri atau Idul Adha), satu sama lain saling mengucapkan: “Taqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian).”

Menurut Ibnu Katsir, pada Hari Raya Idul Fitri yang pertama, Rasulullah Saw pergi meninggalkan masjid menuju suatu tanah lapang dan menunaikan shalat 'Id di atas lapang itu.

Sejak itulah, Nabi Muhammad Saw dan para sahabat menunaikan shalat Id di lapangan terbuka, bukan di dalam masjid.

Demikian Pengertian, Sejarah, dan Ungkapan di Hari Raya Idul Fitri. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan mengampuni dosa kita. Amin...! Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Malam Lailatul Qadar: Pengertian & Cara Mendapatkannya

Pengertian & Cara Mendapatkan Malam Lailatul Qodar - Tafsir Ibu Katsir Surat Al-Qadr.

Lailatul Qadar adalah malam penuh kemuliaan dan keberkahan yang terjadi di 10 malam terakhir bulan Ramadhan.

Pada malam qadar, para malaikat turun ke bumi guna mengurus berbagai urusan dengan membawa keberkahan dan rahmat dari Allah SWT.

Cara menemkan atau mendapatkan malam qodar adalah menghidupkan 10 malam terakhir bulan Ramadhan dengan ibadah, sebagaimana dianjurkan Rasulullah Saw, antara lain dengan I'tikaf atau berdiam di masjid untuk fokus beribadah.

Kehadiran malam Lailatul Qodar secara jelas disebutkan salam Al-Quran Surat Al-Qadr.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 1-5).

Pengertian Malam Qadar (Lailatul Qodr)

Secara harfiyah, lailatul qodr artinya malam penetapan atau malam penentuan. Secara istilah, lailatul qodar adalah malam penuh keberkahan, kemuliaan, dan ampunan, serta malam seribu bulan.

Dalam QS. Al-Qodr tersebut dijelaskan, Malam Qodar (Lailatul Qadar) adalah
  1. Malam diturunkannya Al-Quran sehingga malam ini bernilai historis dan penuh keberkahan dan kemuliaan.
  2. Malam yang lebih baik dari 1000 bulan (khairun min alfi syahrin), yaitu untuk amal ibadah yang dilakukan pada malam itu lebih baik dari amalan selama seribu bulan.
  3. Malam diturunkannya malaikat dengan membawa keberkahan dan rahmat dari Allah SWT
  4. Malam penuh keselamatan atau kedamaian.

Orang yang menghidupkan malam Lailatul Qodar dengan ibadah, maka akan diampuni dosa-dosanya, sebagaimana ditegaskan Rasulullah Saw:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang menghidupkan lailatul qadar dengan shalat malam atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Penjelasan Lailatul Qodar

Penjelasan tentang malam qadar berikut ini disarikan dari Tafsir Ibnu Katsir. Menurut Ibnu Katsir, Lailatul Qadar yaitu satu malam yang penuh berkah di bulan Ramadhan, sebagaimana difirmankan Allah dalam ayat lainnya: SyaHru ramadlaanal ladzii unzila fiiHil qur-aan --Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Tentang diturunkannya Al-Quran, Ibnu ‘Abbas dan yang lainnya mengatakan: “Allah menurunkan al-Qur’an itu sekaligus [30 juz], dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Kemudian diturunkan secara bertahap, sesuai dengan konteks realitasnya dalam kurun waktu dua puluh tiga tahun, kepada Rasulullah saw."

Lailatul Qadr adalam malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan. Pahala atau nilai ibadah pada malam itu menyerupai ibadah selama seribu bulan.

Ditegaskan di dalam ash-Shahihain dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. Bersabda:

“Barang siapa yang bangun untuk mendirikan shalat pada malam lailatul qadr dengan penuh keimanan dan pengharapan akan pahala, maka akan diberikan ampunan kepadanya atas dosa-dosanya yang telah lalu.”
Pada malam Lailatul Qodar, malaikat-malaikat dan malaikat Jibril turun ke bumi untuk mengatur segala urusan, yakni banyak turunnya malaikat pada malam ini karena banyaknya berkah yang terdapat padanya.

Para malaikat itu turun bersamaan dengan turunnya berkah, sebagaimana mereka senang untuk turun saat Al-Qur’an dibaca.

Selain itu, para malaikat ini akan mengelilingi halaqah-halaqah dzikir [majelis ilmu] dan meletakkan sayap mereka bagi pencari ilmu dengan penuh kejujuran, sebagai bentuk penghormatan terhadapnya.

Tentang pengertian ming kulli amrin (untuk mengatur segala urusan):
  • Mujahid mengatakan: “Malam kesejahteraan untuk mengatur semua urusan.” 
  • Sa’id bin Manshur berkata: “Isa bin Yunus memberitahu kami, al-A’masy memberitahu kami, dari Mujahid, mengenai firman-Nya: salaamun Hiya (“Malam itu penuh kesejahteraan”) dia mengatakan: ‘Ia aman, di mana waktu itu syaitan tidak dapat melakukan kejahatan atau melancarkan gangguan.’” 
  • Qatadah dan lain-lain mengatakan: “Pada waktu itu semua urusan diputuskan, berbagai ajal dan rezeki juga ditetapkan, sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala: fiiHaa yufraqu kullu amrin hakiim --pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah (QS. Ad-Dukhaan: 4.

Kapan Terjadinya Lailatul Qodar?


Malam Lailatul Qadar
Masih menurut Tafsir Ibnu Katsir, Lailatul Qodar terjadi di 10 malam terakhir bulan Ramadhan, yaitu di malam-malam ganjil --malam ke-21, 23, 25, 27, atau malam ke-29. Allah SWT dan Rasul-Nya tidak memberitahukan secara pasti agar umat Islam menghidupkan 10 malam terakhir bulan Ramadhan guna menemui Lailatul Qadar.

Nabi Saw berdiri untuk menyampaikan khutbah pada pagi hari ke-20 bulan Ramadlan seraya berucap:

‘Barangsiapa yang beriktikaf bersamaku maka hendaklah dia pulang kembali, karena sesungguhnya aku telah melihat Lailatul Qadr. Dan sesungguhnya aku melupakannya, dan sesungguhnya ia ada pada sepuluh terakhir pada malam ganjil. Dan aku melihat seakan-akan aku bersujud di tanah dan air.’

Dan pada waktu itu atap masjid masih berupa pelepah kurma dan kami tidak bisa melihat sesuatu di langit. Lalu Lailatul Qadr itu datang secara tiba-tiba sehingga hujan turun menyiram kami. Selanjutnya, Nabi saw. mengerjakan shalat bersama kami sehingga aku melihat bekas tanah dan air pada dahi Rasulullah saw. sebagai bentuk pembenaran mimpi beliau.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari ‘Abdullah bin ‘Abbas bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh terakhir di bulan Ramadlan, pada sembilan hari yang tersisa, pada tujuh hari yang tersisa dan pada lima hari yang tersisa.”

Banyak orang yang menafsirkannya sebagai malam-malam ganjil. Dan yang ini lebih jelas dan lebih populer. Ulama lain membawanya kepada malam-malam genap, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Sa’id di dalam kitab shahihnya bahwa dia membawanya pada hal tersebut. wallaaHu a’lam.

Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari ‘Ubadah bin ash-Shamit bahwa dia pernah bertanya kepada Rasulullah saw. mengenai Lailatul Qadr, lalu Rasulullah saw. bersabda:

“Pada bulan Ramadlan, carilah ia [lailatul qadr] pada malam sepuluh terakhir, karena ia adalah malam ganjil; malam keduapuluh satu, atau keduapuluh tiga, atau keduapuluh lima, atau keduapuluh tujuh, atau keduapuluh sembilan, atau pada malam terakhir.”

Cara Mendapatkan Lailatul Qodar


Imam Syafi’i mengatakan: “Pernah terlontar jawaban dari Nabi saw. bagi seorang penanya ketika ditanya kepada beliau: ‘Apakah kami harus mencari malam qadr itu pada malam tertentu?’ beliau menjawab: ‘Benar.’ Sesungguhnya lailatul qadr itu merupakan malam tertentu yang tidak akan berpindah.’”

Dinukil oleh at-Tirmidzi darinya sekaligus pengertiannya. Dan diriwayatkan dari Abu Qilabah bahwasannya dia pernah berkata: “Lailatul Qadr itu berpindah-pindah pada sepuluh malam terakhir.” Dan inilah yang diriwayatkan dari Abu Qilabah yang dinash-kan padanya oleh Malik, ats-Tsauri, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahwaih, Abu Tsaur, al-Muzani, Abu Bakar bin Khuzaimah, dan lain-lain. Dan juga diriwayatkan dari asy-Syafi’i yang dinukil oleh al-Qadhi. Dan inilah yang mirip. wallaaHu a’lam.

Pendapat ini disandarkan pada hadits di dalam kitab ash-Shahihain dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwasannya ada beberapa orang dari sahabat Nabi diperlihatkan Lailatul Qadr melalui mimpi pada malam keduapuluh tujuh dari bulan Ramadlan. Lalu Nabi saw. bersabda: “Aku melihat mimpi kalian itu telah terjadi pada malam tujuh terakhir. Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin memperolehnya maka hendaklah dia mengejarnya pada tujuh malam terakhir.”

Disunahkan untuk memperbanyak doa di sepanjang waktu dan di bulan Ramadlan, perbanyaklah pada sepuluh malam terakhir di bulan yang sama, kemudian pada malam-malam ganjil. 


Yang disunahkan dalam doa ini adalah membaca doa berikut: allaaHumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwaa fa’fu ‘annii (“Ya Allah sesungguhnya Engkau Mahapemaaf yang menyukai maaf, karenanya berikanlah maaf kepdaku.”)

Diriwayat pula oleh at-Tirmidzi, an-Nasa-i, dan Ibnu Majah serta al-Hakim di dalam Mustadraknya, dan dia mengatakan: “Hadits ini shahih dengan syarat Syaikhani [al-Bukhari dan Muslim] dan juga diriwayatkan oleh an-Nasa-i.

Kesimpulan
Malam Qodar (Lailatul Qodar) adalah malam penuh kemuliaan, keberkahan, ampunan, dan malam ketika nilai ibadah lebih baik dari amalan seribu bulan. Waktunya adalah di 10 terakhir bulan Ramadhan.

Semoga Allah SWT memberi kita kekutan dan rahmat sehingga bisa menjumpai Lailatul Qodar. Amin Ya Rabbal 'Alamin. (www.risalahislam.com.Sumber: Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Shahih Bukhari, Shahih Muslim).*

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa: Yang Sering Ditanyakan

puasa ramadhan
Hal-Hal yang Membatalkan Puasa. Bagaimana dengan menelan ludah, sikat gigi pake odol, mencicipi masakan, mimpi basah, apakah membatalkan puasa?

MENJELANG Ramadhan, sebaiknya kita membekali diri dengan ILMU RAMADHAN, khususnya seputar PUASA, mulai dari syarat puasa, rukun puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, hingga apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat Puasa Ramadhan.

Jika umat Islam sudah membekali diri dengan ILMU RAMADHAN, maka ketika sudah memasuki Ramadhan, umat tidak lagi bertanya seputar puasa Ramadhan.

Para penceramah tarawih dan Subuh pun dapat fokus ke tema-tema selain Ramadhan, tidak lagi berkutat soal, misalnya Pahala Puasa dan sebagainya tentang Ramadhan.

Namun, setelah sekian tahun melaksanakan Puasa Ramadhan, masih ada umat yang bertanya seputar Ramadhan justru saat berada di Bulan Ramadhan.

Berikut ini hal-hal yang sering ditanyakan seputar Puasa Ramadhan. Biasanya muncul dari jamaah pengajian atau forum-forum konsultasi.

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA

Yang membatalkan puasa itu adalah
  1. Makan
  2. Minum
  3. Bersetubuh
  4. Sengaja Muntah
  5. Haid
  6. Nifas
  7. Keluar Mani Sengaja
  8. Gila
  9. Murtad

YANG SERING DITANYAKAN

Ini pertanyaan yang sering dikemukakan karena ketidaktahuan atau lupa --maklum Puasa Ramadhan ‘kan setahun sekali.

1. Apakah makan minum tidak sengaja --karena lupa membatalkan puasa? Jawabannya, TIDAK.

“Siapa yang lupa keadaannya sedang berpuasa, kemudian ia makan dan minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah-lah yang memberikan makanan dan minuman itu”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari: 1797 dan Muslim: 1952).

2. Apakah Menelan Ludah Membatalkan Puasa? Jawabannya, TIDAK.

"Dibolehkan untuk menelan benda-benda yang tidak mungkin bisa dihindari. Seperti menelan ludah, debu-debu jalanan, taburan tepung, atau dedak…” (Fiqh Sunnah, 1:342).

"Menelan ludah tidak membatalkan puasa, meskipun banyak atau sering dilakukan ketika di masjid dan tempat-tempat lainnya. Akan tetapi, jika berupa dahak yang kental maka sebaiknya tidak ditelan, tetapi diludahkan/dibuang" (Fatwa Lajnah Daimah, volume 10, hlm. 270).

Baca: Hukum Menelan Ludah Saat Puasa

3. Apakah Sikat Gigi Pake Odol Batal Pusa? Jawabannya, TIDAK, selama odolnya tidak ditelan.

“Melakukan seperti itu (sikat gigi dengan pasta) tidaklah mengapa, selama tetap menjaga sesuatu agar tidak tertelan di kerongkongan. Sebagaimana pula dibolehkan bersiwak bagi orang yang berpuasa baik di pagi hari atau sore harinya.” (Fatwa Ramadhan, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz).

Baca: Hukum Sikat Gigi Saat Puasa

4. Benarkah Tidur Siang Hari Saat Puasa Tramadhan Itu Ibadah?

Jawabannya, hadits yang artinya “Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah..” adalah Hadits Dhoif bahkan Palsu (Silsilah Adh-Dhaifah, Fatwa Islam). Baca Selengkapnya

5. Apakah Mimpi Basah Membatalkan Puasa? Jawabannya, TIDAK.

Karena mimpi basah itu tidak disengaja. Tapi, kalau “basahnya” itu disengaja dengan mengikuti syahwat, maka puasanya batal.

“Orang yang berpuasa itu meninggalkan syahwat, makan dan minumnya.” (HR. Bukhari no. 7492).

6. Apakah Niat Puasa Harus Dilafalkan, sebagaimana dilakukan setelah Shalat Tarawih?

Jawabannya, TIDAK HARUS, juga tidak ada larangana alias boleh. Karena, niat itu amalan hati (’amaliyah qolbiyah).

Niat yang sesungguhnya itu ada atau muncul dalam hati dan hanya diketahui oleh diri sendiri dan Allah SWT. Meskipun melafalkan niat, Nawaitu Shouma Ghodin, namun hatinya tidak berniat, maka itu bukan niat sebagaimana syarat sah puasa --niat puasa pada malam hari sebelum masuk waktu Subuh.

Selengkapnya Soal Niat Puasa

7. Apakah di Waktu Imsak Masih Boleh Makan Minum?

Jawabannya: BOLEH. Waktu Imsak itu 10 menit sebelum waktu Subuh. Awal puasa itu dimulai saat masuk waktu Sholat Subuh. Imsak hanya untuk kehati-hatian atau jaga-jaga, jangan sampai “bablas”.

“Makan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu terbit fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187).

‘Makan dan minumlah kalian, sampai Ibnu Ummi Maktum beradzan, karena tidaklah dia mengumandangkan azan kecuali setelah terbit fajar.” (H.R. Bukhari, no. 1919 dan Muslim, no.1092).

Baca: Waktu Imsak yang Sebenarnya

8. Tidak Sahur, Apakah Sah Puasanya? Jawabannya: Sah. Baca Penjelasannya.
9. Apakah Berkumur-Kumur Saat Wudhu Membatalkan Puasa? Jawabannya: Tidak. Penjelasan.

10. Apakah mencicipi makanan/masakan membatalkan puasa?

Jawabannya: Tidak.

Tidak mengapa seseorang yang sedang berpuasa mencicipi cuka atau sesuatu, selama tidak masuk sampai ke kerongkongan.” (HR. Ibnu Abi Syaibah).

“Mencicipi makanan terlarang bagi orang yang tidak memiliki hajat, akan tetapi hal ini tidak membatalkan puasanya. Adapun untuk orang yang memiliki hajat, maka hukumnya seperti berkumur-kumur.” (Majmu’ Fatawa).

Selengkapnya Soal Mencicipi Makanan.

Demikian hal-hal yang membatalkan puasa dan yang sering ditanyakan seputar kegiatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat puasa. Selamat menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan. Semoga berkah dan maqbul. Amin...! Wasalam. (www.risalahislam.com).*

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2016 M / 1437 H

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2016 M / 1437 H Kota Bandung dan Kota-Kota Lain di Seluruh Indonesia.

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2016 M / 1437 H
JADWAL Imsakiyah atau Jadwal Puasa, terutama jam imsak dan buka puasa, termasuk paling dicari menjelang dan selama bulan suci Ramadhan.

Jadwal Imsak menjadi acuan untuk siap-siap berpuasa atau menahan diri dari makan dan minum serta hal yang membatalkan puasa lainnya.

Jadwal Buka puasa alias Waktu Adzan Magrib merupakan jadwal favorit, karena saat inilah umat Islam yang berpuasa melepas dahaga dan lapar yang ditahan seharian.

Disebut jadwal imsakiyah merujuk pada kata "imsak" (bahasa Arab) yang artinya "menahan", yaitu menahan diri untuk tidak makan minum dan hal lain yang membatalkan puasa. Waktu imsak adalah waktu shalat Subuh dikurangi 10 menit.

Waktu Imsak ini untuk berjaga-jaga saja. Untuk kehati-hatian agar yang berpuasa tidak "bablas" masih makan-minum begitu awal waktu puasa dimulai --saat masuk waktu shilat Subuh. (Baca: Waktu Imsak yang Sebenarnya).

Berikut ini jadwal Imsakiyah Ramadhan 2016 M / 1437 H untuk Kota Bandung. Kota-kota lainnya bisa dilihat di link di bawah.


Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2016


Ramadan 1437 H - Juni-Juli 2016 M
Kota Bandung 


Koordinat: (-6.92, 107.62). Ketinggian: 805 m. Zona Waktu: Asia/Jakarta. Arah Kiblat: 295° dari Utara.
Tgl.MasehiImsakShubuhTerbitDhuhaZhuhr'AshrMaghrib'Isya'Jam Qiblat
17 Jun04:2504:3505:5206:1911:5015:1117:4618:5716:43
28 Jun04:2504:3505:5206:2011:5015:1217:4618:5716:45
39 Jun04:2504:3505:5206:2011:5015:1217:4618:5716:47
410 Jun04:2504:3505:5206:2011:5015:1217:4718:5716:50
511 Jun04:2504:3505:5306:2011:5115:1217:4718:5716:51
612 Jun04:2604:3605:5306:2111:5115:1217:4718:5816:53
713 Jun04:2604:3605:5306:2111:5115:1217:4718:5816:54
814 Jun04:2604:3605:5306:2111:5115:1317:4718:5816:55
915 Jun04:2604:3605:5406:2111:5215:1317:4718:5816:57
1016 Jun04:2604:3605:5406:2211:5215:1317:4818:5816:58
1117 Jun04:2704:3705:5406:2211:5215:1317:4818:5916:59
1218 Jun04:2704:3705:5406:2211:5215:1417:4818:5917:00
1319 Jun04:2704:3705:5406:2211:5215:1417:4818:5917:01
1420 Jun04:2704:3705:5506:2211:5315:1417:4918:5917:01
1521 Jun04:2704:3705:5506:2311:5315:1417:4918:5917:02
1622 Jun04:2804:3805:5506:2311:5315:1417:4919:0017:02
1723 Jun04:2804:3805:5506:2311:5315:1517:4919:0017:02
1824 Jun04:2804:3805:5606:2311:5315:1517:4919:0017:02
1925 Jun04:2804:3805:5606:2411:5415:1517:5019:0017:02
2026 Jun04:2904:3905:5606:2411:5415:1517:5019:0117:02
2127 Jun04:2904:3905:5606:2411:5415:1517:5019:0117:01
2228 Jun04:2904:3905:5606:2411:5415:1617:5019:0117:00
2329 Jun04:2904:3905:5606:2411:5415:1617:5119:0117:00
2430 Jun04:2904:3905:5706:2411:5515:1617:5119:0116:59
251 Jul04:3004:4005:5706:2511:5515:1617:5119:0216:56
262 Jul04:3004:4005:5706:2511:5515:1717:5119:0216:55
273 Jul04:3004:4005:5706:2511:5515:1717:5119:0216:53
284 Jul04:3004:4005:5706:2511:5515:1717:5219:0216:53
295 Jul04:3004:4005:5706:2511:5615:1717:5219:0216:51
Waktu shalat dihitung berdasarkan kriteria Kementerian Agama RI (MABIMS). Silakan merujuk kepada pemerintah untuk tanggal resmi 1 Ramadhan dan 1 Syawal (Hari Raya Idul Fitri). Jam Qiblat adalah waktu ketika matahari berada pada arah kiblat atau berlawanan arah dengannya (waktu dalam tanda kurung).
Dipersiapkan oleh: Alhabib Web Service - www.al-habib.info
Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2016

Sesuai dengan Jadwal Sholat
Karena jadwal imsakiyah pada dasarnya sama dengan jadwal waktu sholat, maka jadwal puasa pun bisa dilihat di Jadwal Sholat.

Aplikasi Jadwal Puasa untuk HP Android (SmartPhone) juga banyak tersedia di Google Play.

Baca Juga: Panduan Ramadhan

Demikian informasi dan link Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2016 M / 1437 H untuk Kota Bandung dan kota lainnya di Indonesia. Semoga bermanfaat. Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan. Wasalam. (www.risalahislam.com).*